Wednesday, June 29, 2011
Jemput qaqa plus plus
Monday, January 31, 2011
[Verse 1]
Her eyes, her eyes
make the stars look like they're not shining
Her hair, her hair
falls perfectly without her trying
She's so beautiful
And I tell her everyday (yeahh)
I know, I know
When I compliment her she won't believe me
And it's so, it's so
Sad to think that she don't see what I see
But everytime she asks me "Do I look okay?"
I say
[Chorus:]
When I see your face
There's not a thing that I would change
'Cause you're amazing
Just the way you are
And when you smile
The whole world stops and stares for a while
'Cause girl you're amazing
Just the way you are
[Verse 2]
Her lips, her lips
I could kiss them all day if she'd let me
Her laugh, her laugh
she hates but I think it's so sexy
She's so beautiful
And I tell her everyday
Oh you know, you know, you know
I'd never ask you to change
If perfect's what you're searching for
Then just stay the same
So don't even bother asking if you look okay
'Cause you know I'll say
[Chorus:]
When I see your face
There's not a thing that I would change
'Cause you're amazing
Just the way you are
And when you smile
The whole world stops and stares for a while
'Cause girl you're amazing
Just the way you are
The way you are
The way you are
[Chorus:]
When I see your face
There's not a thing that I would change
Cause you're amazing
Just the way you are
And when you smile
The whole world stops and stares for awhile
Cause girl you're amazing
Just the way you are
Wednesday, January 19, 2011
POSTER EXACTA

More InfoPelaksanaan :
Babak penyisihan
Minggu, 6 Februari 2011
Waktu 07.00
Babak Final
Minggu, 13 Februari 2011
Waktu 07.00
Pendaftaran :
Senin- Sabtu
17 Januari 2011-6 Februari 2011
Waktu 14.15-17.00 WIB
di SMA Negeri 1 Yogyakarta
fasilitas
o Naskah soal
o LJK
o Pembahasan
o Block note
o Sticker
o Snack
o Drink
o Lunch
o Hiburan
o Piagam penghargaan bagi semifinalis
fee : Rp 20.000,00
Hadiah :
juara 1 : netbook + Rp100.000,00 + trophy + piagam
juara 2 : mp3 + Rp400.000,00 + trophy + piagam
juara 3 : flashdisk + Rp300.000,00 + trophy + piagam
juara 4 : flashdisk + Rp100.000,00 + piagam
juara 5 : Rp100.000,00 + piagam
Contact Person :
Alifah 02749295838
Victa 081392553773
exacta2011@gmail.com
TSC.WEB.ID
Monday, January 17, 2011
Pendaftaran Exacta 2011
Diberitahukan bahwa mulai hari ini, Senin 17 Januari 2011 Panitia Exacta telah membuka pendaftaran Exacta Lomba MIPA SMP se DIY - Jateng.
Pendaftaran Mulai dilayani pada pukul 14.15 di Lobi SMA Negeri 1 Yogyakarta
Alamat : Jalan HOS Cokroaminoto 10 Yogyakarta.
Terima Kasih
Wassalamualaikum Wr. Wb
EXACTA ! MAKE YOUR OWN SCIENCE TREE !!!
Sunday, January 16, 2011
essay terbaru :)
Semakin Berbeda Semakin Dekat
Manusia diciptakan untuk saling berhubungan dan bantu – membantu. Untuk itu manusia membutuhkan orang lain. Seperti halnya arti dari manusia sebagai makhluk sosial yang berarti manusia itu tidak dapat hidup tanpa bantuan dari orang lain. Salah satu bentuk berhubungan adalah dengan berteman. Kegiatan yang paling sering dilakukan anak adalah berteman. Tidak ada kewajiban – kewajiban seseorang untuk berteman, tetapi naluri untuk berteman itu tumbuh alami dari masing – masing individu. Seperti halnya pertemanan yang dilakukan penulis. Dari kecil, penulis sudah memulai untuk berinteraksi dengan cara berteman. Walaupun lingkupnya sangat terbatas, yaitu hanya di daerah tempat tinggal, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk berteman. Karena lingkungan sangat mempengaruhi sebuah pertemanan, maka wajar jika macam orang yang ada juga terbatas. Seperti halnya dilingkungan penulis dengan suku Jawa yang mendominasi. Semakin majunya zaman dan bertambahnya umur penulis, hal tersebut sangat mempengaruhi wawasan, jangkauan, dan juga teman. Semakin lama, macam teman semakin bertambah, dari teman yang berbeda provinsi, berbeda pulau, hingga teman dari negara lain.
Bertambahnya usia juga akan memperngaruhi hal – hal lain diantaranya sekolah. Dalam menjalani sekolah, kita tidak bisa mengabaikan pertemanan dan interaksi. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang diambil, semakin bervariasi pula teman yang ada. Penulis juga merasakan hal tersebut. Teman penulis dalam jejang pendidikan sekarang sangat bervariasi, salah satunya adalah teman sekelas penulis. Penulis mempunyai teman baru, yaitu siswa dari Malaysia. Sebenarnya dia berasal dari Yogyakarta, namun hidup dan besar di luar Jawa. Namanya adalah Wibisono. Penampilannya tidak terlalu berbeda, karena dilihat dari asalnya juga berasal dari Yogyakarta. Wibisono juga merupakan orang yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Dilihat dari usianya, Wibisono termasuk orang yang berani, karena diusia remaja dia berani dan mampu untuk menghadapi lingkungan yang berbeda dari tempat tinggal sebelumnya.
Dengan bertambahnya waktu berteman dengan Wibisono, bertambah pula informasi tentang dirinya yang penulis dapat. Wibisono lahir di Yogyakarta, namun karena suatu hal dia tidak tinggal di Yogyakarta. Tempat tinggalnya yang pertama adalah di Sumatera, kemudian barulah dia tinggal di Malaysia selama beberapa tahun. Tumbuh dan besar di Negara tetangga juga mempengaruhi logat bahasa yang ia gunakan. Logat melayu sangat kental menyertai suaranya. Laki – laki yang besar di luar Indonesia ini gemar dengan makanan khas Yogyakarta, bakpia tetapi juga menyukai masakan nasi lemak. Hal hal yang berhubungan dengan tempat tinggalnya dulu ternyata juga tidak mudah untuk dilupakan. Laki – laki yang tinggal di luar Indonesia ini ternyata seorang yang pandai menyesuaikan diri. Dia mampu yang sangat pandai pada pelajaran yang diajarkan dengan kurikulum Indonesia. Walaupun demikian, kesulitannya dalam pengucapan bahasa Jawa juga tidak dapat disembunyikan. Bahasa dan pengucapan yang berbeda menjadi kendala Wibisono dalam penyesuaian bahasa Jawa. Tetapi hal tersebut tidak menyurutkan semangat belajarnya. Penulis juga membantu beberapa kesulitan kesulitan yang dihadapi Wibisono dalam pelajaran bahasa Jawa.
Perbedaan – perbedaan dan kekurangan tersebut justru menimbulkan rasa solidaritas yang tinggi. Keterbukaan kita terhadap orang baru sangat dibutuhkan seseorang dalam beradaptasi. Peka dan selalu rendah hati merupakan hal yang harus selalu dijaga dalam menjalin sebuah pertemanan. Karena, banyak sekali hal positif yang dihasilkan dalam menjalin sebuah pertemanan. Bertambahnya wawasan, pengetahuan tentang budaya lain, berbagi pengalaman merupakan sebagian kecil hal positif dari berteman. Berteman dengan orang lain yang tumbuh di tempat yang berbeda dengan kita juga merupakan hal yang asik dan menarik. Semakin banyak teman, semakin banyak pula hal baru yang kita dapat. Jangan pernah memilih – milih dan melihat apa kekurangan teman, tetapi selalu melihat kebaikan dan sisi baiknya karena kita juga tidak akan suka jika orang lain memilih – milih kita dan hanya melihat apa kekurangan yang ada pada kita.
Thursday, December 23, 2010
EXACTA 2011 Lomba MIPA SMP se- DIY JATENG
Sunday, January 24, 2010
cerpen"harapanku tak pernah usai" diilhami dari kisah nyata seorang gadis remaja
“Sumpah, seru banget!! Rasanya pengen banget ngulangi liburan kayak kemarin” , Sahut Vanda dengan penuh antusias.
Semuapun langsung nyambung dan asyik ngobrol. Tapi pada saat yang sama, mataku tidak bisa mengalihkan pandangan , menuju ke satu orang di tengah lapangan , Vian. Vian adalah cowok berbadan tinggi, berkulit sawo matang, barmata tajam nan indah dan tegas. Entah mengapa tiba – tiba dia sering kuperhatikan akhir – akhir ini . Seorang komandan tonti yang rajin dan disegani banyak anak di sekolah ini.
“Whoi..! malah ngelamun.. “ , teriak Viky yang kebetulan duduk di sebelahku.
“Wo, dasar bocah diajak ngobrol malah ngelamun,” sahut Vanda.
“Enggak, emang kenapa?” jawabku seraya tanpa dosa.
Nggak mungkin banget kalo aku bilang “ itu, lagi merhatiin Vian “ pasti langsung diketawain heboh sama mereka. Ya, secara aku ini siapa sih ? Cuman cewek biasa, bahkan nggak se populer dia, ntar malah dikira aku ini cewek apaan? Ngejar kepopuleran?
“Temen – temen udahan ya, aku mesti pulang sekarang ni, jemput adek ku.” Sambung Vriesca menutup pembicaraan di siang itu.
“Oia Var, besok pagi jangan dateng telat lho, pelajaran pertama gurunya galak!” tutur Vina memperingatkanku.
Ya. nggak salah kalau dia bilang begitu. Emang, aku ini nggak tau kenapa sering banget datang sekolah telat. Setelah itu aku langsung menuju parkiran, mengambil motor lalu pulang. Esoknya, untung aku nggak dateng telat. Tapi seperti biasa, teman – temanku udah pada masuk, tinggal gerombolan anak cowok yang duduk – duduk di sepanjang koridor kelas. Kakiku mulai melangkah maju menuju koridor. Satu per satu anak yang kukenal menyapa. Tidak menyangka pandanganku terhenti pada sepasang sepatu yang sepertinya aku tahu siapa pemiliknya. Langsung kupandang wajah orang yang mengenakan sepatu itu. “Vian?” teriakku dalam hati. Langsung kutundukkan kepalaku dan berlari ke kelas.
Bel istirahat terakhir akhirnya berbunyi. Aku beserta keempat temanku berjalan bersama menuju kantin belakang sekolah. Saat berjalan menuruni tangga, ada seorang anak yang berlari menaiki tangga.
“ Tadi Vian kan? Ngapain dia lari – lari gitu? “ Kata Vina sesaat setelah Vian pergi.
Semuanya hanya mengangguk tak berarti. Padahal kalu aja ada yang nanggapin , mungkin tadi aku udah nyambung. Tapi kenapa semakin aku memperhatiin dia, semakin sering aku ketemu dia tanpa sengaja. Sepercik harapan mulai muncul dalam hatiku untuk mengenalnya lebih jauh sebagaimana teman akrab lainnya, bukan hanya teman satu angkatan yang mungkin hanya mengenal nama.
Hari demi hari berlalu begitu saja tanpa ada perunahan yang berarti. Kegiatan ekskulpun sudah mulai dilaksanakan. Memang, kegiatan ekskul kita berbeda, aku mengikuti ensamble musik sedangkan dia sangat aktif mengikuti tonti. Kegiatan ekskulku selesai lebih cepat, dan sesudah itu aku menyempatkan diri untuk duduk – duduk di tepi lapangan tengah sekolah.
“Var!Var!Varumi!” panggil Vanda dan Vina dibelakangnya.
Ternyata aku nggak sadar meninggalkan mereka di depan ruang musik. Kenapa aku ini? Pergi kesini Cuma untuk duduk santai sampai – sampai meninggalkan dua sahabatku sendirian. Walaupun sebenarnya maksudku datang kesini bukan iseng. Aku tahu kalau siang ini tonti belum selesai. Berarti tidak menutup kemungkinan untuk aku bisa melihatnya.
“ Kamu tuh aneh Var, akhir – akhir ini, ada masalah?”
“ Iya Var, bener kata Vanda, kenapa sih?” tambah Vina dengan kebingungannya.
Aku cuma menggeleng dan berbalik melangkah meninggalkan lapangan. Di samping gerbang sekolah aku melihat Vanisa dan Vany duduk asyik. Vina dan Vanda, mereka pulang duluan dan aku menghampiri Vanisa dan Vany di samping gerbang.
“Belum pulang kalian?” tanyaku membuka pembicaraan.
“Belum ni, tadi tadi kami dan alumni SMPN 80 Riau sedang rapat buat reuni” jawab Vanisa.
Seketika itu aku ingat , kalau tidak salah mereka satu sekolah dengan Vian dulu waktu di SMP. Tentu dong, aku langsungmendekati mereka dan mulai bertanya – tanya tentang, siapa sih dan gimana sih Vian dulu ? Mungkin aja mereka tahu.
“Oia, aku mau tanya, Vian itu bener dulu satu sekolah sama kalian?”
“Ha..ha..iya Var, emangnya kenapa?” jawab Vanisa.
Aku canggung banget bilang ke mereka. Tapi aduh... aku gak sabar banget pengen tau tentang si Vian. Ya mungkin dari mereka aku bisa minta phone numbernya kek atau apalah.
“Gini, aku mau bilang sesuatu ni, tentang si Vian, aduh, tapi gimana ya bilang ke kalian..”
“Nyantai aja Varumi, emang gimana?” jawab Vany.
“Nggak tau kenapa, akhir akhir ini aku tu sering banget merhatiin Vian, jadi ada perasaan gimana gitu, dan aku tahu kalian ini temannya, mungkin tau sesuatu tentang Vian”
Lega banget aku habis ngomong gitu, rasanya ngurangi beban pikiranku banget.
“Varumi? Kamu?” Teriak Vanisa dan Vany serentak.
“Sebenarnya nggak ngerti juga , tapi kayaknya aku emang suka ama dia. Tapi aku masih malu juga ni, bahkan sahabat ku yang lain aja belum ada yang tau, sebenarnya Vian tu gimana si?”
“O, gitu, ya nggak salah juga Var kamu suka, apalagi Vian kan juga masih single sekarang” jawab Vanisa.
“Iya Var, Vian anaknya baik kok, enak diajak temenan, dulu aku kan juga deket ama Vian” tambah Vany.
Pembicaraan kami dimulai dari situ. Beribu – ribu pertanyaan kutanyakan pada mereka, dan Asyiknya, mereka jawab pertanyaanku dengan sabar. Dari pertanyaan yang “bermutu” sampai pertanyaan yang bener – bener nggak penting. Aku suka banget punya temen sekelas yang baik kayak mereka. Setelah itu aku jadi tahusiapa dia, phone number-nya berapa, ulang tahunnya kapan, kebiasaannya apa, alamatnya di mana, dia anak ke berapa, sampai siapa nama ayahnya. Sesampainya di rumah, langsung kuambil cellphone ku dan segera menyimpan nomornya dan juga nggak lupa nyatet hal – hal penting tentang dia.
Di sekolah, aku nggak bisa konsen pelajaran. Entah mengapa pikiranku melayang – layang. Sampai – sampai aku nggak sadar kalau Viky merhatiin aku. Aduh gawat, pasti dia mulai nanya- nanya gitu. Sebenarnya nggak Cuma Viky yang curiga, temen – temen yang lain pasti mikir hal yang sama. Ternyata bener, mereka curiga kayaknya ada sesuatu yang disembunyiin. Sebenarnya aku nggak enak juga, dan akhirnya kuceritain juga semuanya dari awal. Ternyata... bener dugaanku, mereka heboh. Apalagi Verika yang kebetulan juga ndengerin waktu aku cerita. Oia, Verika, dia ini juga deket sama Vian.
Rasa legaku berkurang lagi setelah cerita ke mereka. Aku juga bilang kalau aku udah punya phone numbernya.
“Wah, kesempatan bagus Var, kamu sms duluan aja” saran si Vriesca.
Aduh gimana ya, masa aku yang sms duluan? Tapi setelah kupikir – pikir nggak ada salahnya juga aku yang sms duluan. Sampai di rumah, langsung kususun kata – kata buat nyapa dia. satu sms telah terkirim. Rasanya seneng, plus deg degan berat. Beberapa menit kemudian ada balasan dari dia, dan jawabannya positif. Satu-dua sms kukirim lagi. Tapi setelah itu aku nggak pernah ngelanjudin lagi. Enggak tahu kenapa aku juga bingung. Oia, Vian dia juga sering memimpin upacara bendera. Saat mendengar suaranya memimpin seluruh peserta upacara di sekolah dengan suara dia yang lantang, semua itu membuat hatiku berdebar nggak karuan.
Beberapa bulan berlalu gitu aja, tanpa ada perubahan yang signifikan. Disuatu siang sepulang sekolah, ada Verika di dekat gerbang, dia nyamperin aku gitu.
“Hey Var, gimana ni perkembanganmu sama Vian? Kalian udah semakin deket?”
“Gak ada perubahan ni Ka, emang kamu ada saran?”
“Di sms lagi aja , coba kamu bilang, hai say agi apa?, aku sering nyapa gitu ke dia, coba aja!”
Yang bener aja, gimana tanggapan dia kalau aku sms gitu. Oke, Verika kan emang bertemen akrab ama Vian. Setelah itu aku maen ke rumah Vina, terus aku ceritain ide gilanya si Verika. Dia Cuma ketawa gitu, e... gak taunya Vina sms ke Vian pake nomerku yang isinya ide gilanya si Verika tadi. Langsung aku panik banget. Oke nggak papa kalau dia nanggepinnya santai, tapi kalau sebaliknya? Ternyata bener, dia nanggepinnya ketus banget.
“Maksudmu tu apae sms gak jelas kayak tadi !!!”
Perasaanku kacau balau nggak karuan. Segera aku bales smsnya, minta maaf ama dia kalau aku gak sengaja Cuma bercanda bla..bla..bla... Kemudian dia bales,
“Kamu Varumi kelas XI IPA 8 kan? Maksudmu sms kayak gitu apa? Hah?”
Hatiku rasanya mau copot, kepalaku mau putus. Habis sudah harapanku. Image jelek udah dia cap ke aku. Aduh gimana besok kalau aku ketemu dia? Paginya aku sekolah seperti biasa , aku berpapasan dengan dia, dan beberapa kali aku berpapasan sama dia lagi, tapi pandangannya tu beda, kayaknya dia udah ilfil sama aku. Tapi aku berusaha tenang dan berfikir positif. Kejadian itu udah bikin aku down banget. Perasaanku ke dia jadi agak aneh lagi, tapi tetep aku sayang dia.
“Udah Var, sabar aja ya” kata Vanda yang selalu menyemangatiku.
“Iya Nda, makasi ya..”
Waktu itu aku dan vanda ketemu Verika dan Vivid di kantin. aku cerita masalahku kemarin, gara – gara ide gilanya.
“Wkwkwk...aku tu nggak nyangka kamu sms beneran, tak kirain kamu nggak berani, ya maaf deh”
“Lho emangnya kenapa Rik?” tanya Vivid di sela pembicaraanku.
Verika cerita ke Vivid gimana perasaanku. Tapi tanggapan Vivid beda seperti yang lain. Mungkin karena dia tau sesuatu tentang Vian. Ternyata dugaanku benar. Dia tau suatu hal tentang Vian.
“Var, setauku Vian tu udah punya gebetan deh, si Venda, malah gosipnya Vian udah nembak Venda” jelas Vivid sedikit kecewa.
Jantungku rasanya berhenti berdetak. Hatiku kacau balau berantakan. Ternyata Vian yang selama ini kuharapkan udah menaruh hati pada cewek lain, Venda?
Venda, teman sekelas Vian XI IPA 2.Dulu waktu kelas X aku sempat dekat dengan dia karena kita mengikuti ekskul yang sama.Venda itu anaknya putih, cantik, berambut hitam bergelombang, manis sekali dan dia sangat pintar. Jelas jauh banget jika aku dibandingkan dengan Venda. Dan satu hal yang membuat aku kalah jauh dengannya, Vian suka sama Venda. Satu kalimat itu sadah membuat aku patah hati. Tapi awalnya aku masih mengira itu hanya gossip. Tapi setelah itu banyak gossip sama bermunculan. Dan setelah itu aku baru yakin itu bukan gossip lagi. Keyakinan itu juga semakin kuat saat aku melihat Vian menggandeng tangan Venda dengan sangat mesra. Dan kejadian itu sangat menyakitkan apalagi itu terjadi tepat didepanku, di depan mataku.
Sakiiittt rasanya melihat mereka berdua. Patah hatiku melihatnya. Sejak saat itu aku hanya bisa meratapi nasibku dengan menyaksikan kebahagiaan mereka berdua. Aku sudah tidak berharap apapun lagi, apalagi mereka begitu senang.
“Sabar ya Var, jangan sedih gitu dong!
“Betul kata Viky, gak usah frustasi gitu,”
“Iya Vik, Vries, tapi Vian itu beda..”
Vian emang satu – satunya cowok yang aku suka yang lain dari pada yang lain. Aku ngerasa ada yang beda dari dirinya yang sangat menarik yang membuat aku ada feel ma Vian.
“Iya aku akuin Vian itu emang lain dari yang lain, tapi mungkin dia bukan atau mungkin belum jodohmu sekarang” Vanda dengan penuh bijaksana.
“Vanda betul tuh, cowok kan masih banyak, apa mau kukenalin dengan sepupuku , Vahmi? Dia masih single loh..”
“ha..ha..Vina ni ada – ada aja..”
Aku baru sadar, terlalu sering aku mikirin Vian, Vian, dan Vian sampai- sampai aku nglupain sahabat – sahabat ku yang jelas – jelas selalu ada buat aku. Malahan ngertiin gimana perasaanku. Yah, mulai sekarang aku mencoba buat melupakan dia. Tapi sebenarnya enggak nglupain total, kenangan kayak gitu gak bisa dilupain, tapi aku mencoba buat netralin persaanku.
Beberapa bulan telah berlalu setelah kejadian itu. Masih ada sih rasa sakit hati, tapi berangsur – angsur menghilang. Aku dan teman – temanku sudah kelas XII SMA. Kami sudah mulai sibuk menyiapkan ujian besok. Aku juga mengikuti bimbingan belajar.Dan di sana ada seorang cowok, anaknya keren, putih, baik, manis juga. Namanya Ade. Kelihatannya prospek hidupnya bagus. Sepertinya aku mulai berharap lagi.
***